Opini: Boy Paskand
Ada sebuah fenomena yang menggelitik sekaligus menyayat hati yang sering kita temui dalam pergaulan anak muda, maupun terjadi di media sosial, Penulis bicara karena memang sudah sering berdebat masalah ini di media sosial dengan generasi muda wilayah 'Darek' (dataran tinggi Minangkabau). Dengan dada mendungkur bangga karena merasa lahir di " pusat peradaban ", sebagian dari mereka begitu mudah memandang ke sebelah mata saudara sesama Minang di Pariaman.
Senjata utama yang paling sering disemburkan untuk memojokkan orang Pariaman adalah satu hal: 'Adat Bajapuik' .
"Tengoklah orang Pariaman tuh, mau nikah kok laki-lakinya 'dibali' (dibeli). Mana ada dalam adat Minang!" begitu seloroh tajam yang sering terlontar.
Sebuah cemoohan yang terdengar jumawa, namun sebenarnya telanjang mengumbar betapa dangkalnya pemahaman mereka tentang adat yang mereka banggakan itu sendiri.
Terjebak Menganggap Tradisi Lokal Sebagai "Hukum Alam"
Cacat pikir terbesar anak muda 'Darek' yang paling Minang ini terletak pada ketidakmampuan mereka membedakan tingkatan adat. Dalam fajar sejarah Minangkabau, para tetua kita sudah membagi tatanan adat dengan sangat arif dan presisi melalui konsep adat nan ampek (adat yang empat).
Di punuk tertinggi, ada adat dan sabana adat. Inilah hukum alam yang mutlak, tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, bersumber dari alam 'takambang jadi guru' serta nilai-nilai syariat Islam. Ini adalah pondasi mati yang tidak bisa ditawar-tawar oleh siapa pun, baik di Ranah maupun di Rantau.
Lalu, di mana posisi 'Adat Bajapuik' Pariaman?
'Bajapuik' bukanlah 'adat nan sabana adat'. Bajapuik adalah adat nan diadatkan sebuah konteks, kesepakatan sosial, dan tradisi lokal yang dirumuskan oleh niniak mamak di Pesisir Pariaman pada masa lalu untuk menjaga marwah perkawinan dan menghargai kedudukan keluarga.
Lucunya, anak-anak muda di Darek generasi muda sering memposisikan tradisi nagari mereka sendiri seolah-olah itulah adat nan sabana adat sementara tradisi nagari orang lain dianggap "sesat" atau "bukan Minang". Padahal, tata cara pernikahan di Tanah Datar, Agam, atau Limapuluh Kota pun pada hakikatnya hanyalah adat nan diadatkan hasil kesepakatan manusia yang beragam bentuknya di tiap-tiap nagari.
Membedah Bajapuik: Antara Penghargaan dan Marwah, Bukan "Jual Beli"
Penyesatan makna yang paling parah oleh anak muda Darek setara dengan Bajapuik dengan transaksi jual beli manusia. Ini adalah wujud kemalasan berpikir yang amat teramat sangat, tapi merasa tahu dan paling tahu hanya karena di besarkan di pusat peradaban dan dekat gunung merapi.
Dalam kacamata sejarah dan sosiologis masyarakat Pariaman, uang japuik atau uang hilang bukanlah “harga” untuk membeli seorang pria. Tradisi ini adalah bentuk penghargaan, rasa hormat, sekaligus tanggung jawab sosial dari keluarga pihak perempuan untuk mengangkat marwah (*manjapuik*) calon suami yang akan menjadi marapulai.
Uang atau barang yang diberikan tersebut pun pada hakikatnya berputar kembali untuk modal awal kehidupan berumah tangga pasangan baru tersebut, atau dibalas dalam bentuk pemberian lain (mambaleh).
Menyebut prosesi yang sarat makna penghormatan ini sebagai tindakan "membeli laki-laki" hanya membuktikan satu hal: anak muda tersebut menilai tradisi suku bangsa sendiri menggunakan prasangka pemahaman, bukan dengan niat untuk memahami.
Logika Terbalik: Mengaku Paling Adat, Tapi Melanggar Falsafah Dasar
Filsafat Minangkabau yang paling dasar justru mengajarkan kita untuk lapang dada menerima perbedaan:
“Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain nagari lain adatnya”.
Jika anak muda 'Darek' mengaku paling mengerti Minangkabau, seharusnya prinsip universal ini yang pertama kali mereka tancapkan di kepala. Menghina
Adat Bajapuik hanya karena tradisi itu tidak ada di nagarinya sama saja dengan mengerdilkan kekayaan kebudayaan Minangkabau itu sendiri.
Sungguh sebuah logika terbalik: mereka merasa paling paham adat, tetapi di saat yang sama justru menyebarkan falsafah dasar adat tentang kesadaran akan keberagaman nagari.
Tindakan menolak ke-Minang-an Pariaman hanya gara-gara Bajapuik adalah bentuk kesombongan semu. Ini ibarat anak yang merasa paling disayangi ibu, lalu mengusir saudaranya dari rumah hanya karena sang saudara memiliki gaya berpakaian atau kosa kata yang berbeda.
Mengkredilkan Kebesaran Tradisi Yang Ada Di Minangkabau Itu Sendiri.
Sangat tragis rasanya melihat fenomena ini terjadi di era di mana informasi begitu mudah diakses. Anak muda hari ini bisa dengan cepat mencari tahu sejarah peradaban dunia di internet, tetapi gagap dan malas membaca buku sejarah bangsanya sendiri.
Mereka lupa atau mungkin tidak pernah tahu bahwa Pariaman bukan sekedar pelengkap pesisir. Pariaman adalah pintu gerbang masuknya Islam ke tanah Minangkabau melalui ulama besar Syaikh Burhanuddin di Ulakan. Pariaman adalah simpul penting yang menghubungkan Ranah Minang dengan dunia luar sejak ratusan tahun yang lalu.
Memotong Pariaman dari peta Minangkabau hanya karena masalah Bajapuik dan perbedaan dialek bahasa adalah bentuk akuntansi sejarah yang sangat memprihatinkan.
Cukupkan Kesombongan, Buka Mata dan Hati
Menjadi bagian dari Luhak Nan Tuo atau wilayah Darek adalah sebuah warisan bersejarah yang patut disyukuri, tetapi itu bukan tiket emas untuk memonopoli kebenaran budaya. Minangkabau tidak pernah sesempit garis batas kabupaten, dan ke-Minang-an seseorang tidak diukur dari seberapa dekat rumahnya dengan kaki Gunung Marapi.
Pariaman dengan Adat Bajapuik nya, Darek dengan ragam tradisinya, adalah bagian dari satu tubuh besar bernama Minangkabau. Jika satu bagian disakiti atau didiskreditkan, pada hakikatnya seluruh tubuh Minangkabau ikut cacat.
Sudah saatnya anak muda Darek menyarungkan ego kedaerahannya. Berhentilah menjadikan Bajapuik sebagai bahan olok-olok untuk memecah belah. Mulailah membaca, bertanya kepada para tetua dengan kerendahan hati, dan memandang kebudayaan secara jernih.
Sebab, tidak ada yang lebih tertarik daripada melihat seorang anak muda yang berteriak bangga atas budayanya, namun di saat yang sama sedang merobek tenun budayanya sendiri karena peninggalan yang dipertahankan.
Salam Waras Saya Buat Generasi Muda Yg Merasa Paling Beradat..!
Boy Paskand.
***

