Oleh: Boy Paskand
Pariaman - Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memicu diskusi hangat di berbagai kalangan, terutama di dunia kepenulisan—mulai dari buku, jurnal, artikel, puisi, cerita pendek, hingga novel. Satu pertanyaan yang terus muncul berulang: ketika sebuah karya ditulis dengan bantuan AI, siapa sebenarnya yang berpikir? Apakah mesin yang menyusun gagasan, atau manusialah yang tetap menjadi jiwa dan sumber utama dari seluruh pemikiran itu?
Pertanyaan ini menjadi menarik karena masih banyak anggapan keliru: bahwa menggunakan AI berarti penulis “malas berpikir” atau menyerahkan sepenuhnya proses kreatif pada program. Padahal, dalam praktik kepenulisan masa kini, AI tidak lain adalah alat bantu—sama fungsinya seperti kamus, ensiklopedia, perangkat lunak penyunting teks, referensi buku, atau bantuan editor manusia yang menyempurnakan naskah.
Untuk melahirkan antologi puisi, cerpen, maupun novel, seorang penulis tetap membutuhkan ide orisinal, pengalaman hidup, imajinasi, penelitian mendalam, serta sudut pandang khas yang hanya dimilikinya. Sebuah karya tidak terbentuk dari sekedar rangkaian kata; ia lahir dari perjalanan batin, pemikiran matang, wawasan, dan pengalaman manusia yang kemudian diwujudkan dalam tulisan.
Dalam proses penulisan yang saya jalani, AI tidak pernah menggantikan langkah berpikir—ia hanya melengkapi. Fungsinya antara lain memeriksa ejaan dan tata bahasa sesuai kaidah, menyempurnakan struktur kalimat, mencari data pendukung tambahan, serta memverifikasi kebenaran informasi yang sedang dikaji.
Bahkan untuk karya yang akan diterbitkan, seperti novel atau kumpulan puisi, prosesnya tetap melalui tahapan yang panjang. Naskah tidak dihasilkan AI lalu langsung dicetak. Sebaliknya: ide pokok, alur cerita, watak tokoh, konflik, hingga pesan moral sepenuhnya berasal dari penulis. Setelah kerangka selesai, naskah disunting berulang kali bersama tim untuk menjaga konsistensi, memperkuat narasi, dan memastikan pesan tersampaikan dengan tepat.
Menggarap novel misalnya, setiap bab mengalami penyempurnaan berkali-kali. Kalimat diubah, diksi dipilih ulang, dan alur disesuaikan agar selaras dengan dunia cerita yang dibangun. Proses ini memakan waktu berbulan-bulan, karena novel bukan sekadar kumpulan tulisan—ia adalah semesta kecil yang harus memiliki logika, emosi, serta landasan sejarah dan sosial yang kokoh.
Selain aktivitas manusia, penggunaan teknologi pun dilakukan secara bertanggung jawab. Salah satunya dengan memeriksa naskah melalui alat pendeteksi pola tulisan buatan mesin. Tujuannya bukan sekadar mengejar angka persentase “kemanusiaan”, melainkan memastikan tulisan tetap menyuarakan suara asli penulis. Sebuah karya harus menyimpan jejak cara berpikir, pengalaman, dan pandangan penulis—sesuatu yang tak bisa ditiru sepenuhnya oleh algoritma.
Oleh karena itu, keliru jika dikatakan “AI yang menulis buku”. Yang benar adalah manusia memanfaatkan teknologi untuk menopang daya ciptanya. Sama seperti penulis zaman dulu memakai pena, mesin tik, atau Merujuk perpustakaan; penulis masa kini menjadikan AI sebagai instrumen baru dalam berkarya.
Perbedaan zaman hanya mengubah alatnya, bukan esensinya. Dulu orang menghabiskan waktu berjam-jam mencari buku di rak perpustakaan; kini bisa bantuan dari memulai gagasan sendiri, lalu meminta teknologi untuk memperluas wawasan, menemukan referensi, atau memvalidasi data. AI tidak menghapus kebutuhan membaca dan berpikir—ia hanya mempercepat akses informasi. Penulis tetap harus menyaring, menganalisis, dan menentukan mana yang relevan. Tanpa kemampuan berpikir kritis, AI hanya akan menghasilkan kata tanpa makna.
Hal yang sama berlaku di dunia akademik dan tulisan ilmiah. Sebuah artikel tidak lahir hanya dengan perintah “tuliskan tentang ini”. Langkah yang benar: penulis menyusun kerangka dan gagasan utamanya sendiri, lalu menggunakan AI untuk merapikan argumen, melengkapi data pendukung, atau menemukan perspektif lain yang belum terpikirkan.
Itulah sebabnya tulisan satu orang akan berbeda dengan yang lain. Sumber perbedaannya bukan pada alat yang dipakai, melainkan pada pengalaman, pengamatan, dan cara pandang pribadi penulis. AI memperkaya wawasan, tapi tak akan pernah bisa menggantikan identitas pemikiran seseorang.
Hanya dengan adanya AI, cakupan kreativitas bisa semakin meluas. Penulis bisa menghubungkan berbagai disiplin ilmu, memahami fenomena dari berbagai sisi, dan menyajikannya dengan kedalaman yang lebih baik. Teknologi membuka pintu seluas akses-luasnya, namun manusialah yang memegang kendali ke mana tulisan akan dibawa.
Karya yang berharga tak pernah lepas dari sentuhan manusia. Getar hati dalam puisi, pergulatan batin tokoh, hingga pesan sosial yang disampaikan—semuanya tumbuh dari jiwa manusia. Mesin mungkin pandai merangkai kalimat, tapi manusialah yang memberi nyawa di dalamnya.
Pada akhirnya, diskusi seharusnya tidak lagi berhenti pada “apakah boleh pakai AI atau tidak”. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: bagaimana kita memanfaatkan teknologi ini dengan bijak, etis, dan bertanggung jawab.
AI bukanlah akhir dari kreativitas. Ia justru bisa menjadi rekan setia yang meringankan beban kerja, selama manusia tetap berdiri tegak sebagai pemilik ide, pemikir, dan pengambil keputusan akhir.
Menulis akan selalu menjadi perjalanan akal dan rasa manusia. Teknologi hanya menemani langkah itu. Sebuah buku tetap lahir dari perenungan, penelitian, keringat, dan revisi yang tak kenal lelah—hingga akhirnya layak dibaca dan direnungkan orang banyak. Sebab yang menjadikan sebuah karya abadi bukanlah rangkaian saja, melainkan gagasan dan jiwa manusia yang tersimpan di baliknya.
****

